Kamis, 23 Oktober 2014

HAKEKAT MASYARAKAT

MAKALAH
HAKEKAT MASYARAKAT

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah FPI (Filsafat Pendidikan Islam) yang diampu oleh bapak Dr. Muhammad Abdul Fattah Santo, M.Ag
Disusun Oleh:
Eko Haryanto (G000120074)
Ridwan Agus Masni (G000130153)
Muhammad Mustafa (G000140108)
TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah segala puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang berbahagia ini. Shalawat serta salam kita junjungkan kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membebaskan kita dari kejahiliyahan.
            Makalah ini penting untuk dibahas pada kali ini, untuk memahami Hakekat Masyarakat dalam menempuh mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
Makalah ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang  Hakekat Masyarakat  yang mudah-mudahan bermafaat bagi pembaca dan khususnya bagi pemakalah.
Pemakalah menyadari, bahwa  penulisan makalah ini masih jauh  dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan untuk perbaikan makalah yang akan datang. Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya. Aamiin. 


Sukoharjo, September 2014

Pemakalah








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................2
A.    PENGERTIAN MASYARAKAT..................................................................................2
B.     PENGERTIAN MASYARAKAT MENURUT PENDAPAT PARA AHLI.................3
C.     PENGERTIAN MASYARAKAT DIDALAM AL-QUR’AN......................................4
D.    TEORI KE-EKSIS-AN..................................................................................................6
E.     CIRI-CIRI MASYARAKAT/PERADABAN................................................................6
F.      SEBAB BANGUN-JATUH MASYARAKAT/PERADABAN..................................11
BAB III PENUTUP..................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................14













BAB I
PENDAHULUAN
            Masyarakat adalah suatu perwujudan kehidupan bersama manusia. Dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial yaitu proses antar hubungan dan interaksi. Di dalam masyarakat sebagai suatu lembaga kehidupan manusia berlangsung pula keseluruhan perkembangan kehidupan manusia. Masyarakat dapat diartikan suatu wadah atau medan tempat berlangsungnya interaksi warga masyarakat. Masyarakat juga bisa diartikan sebagai subjek, yakni sebagai perwujudan warga masyarakat dengan semua sifat (watak) dalam suatu gejala dan manifestasi tertentu atau keseluruhan, sosio psikologisnya.
            Setiap warga masyarakat sadar atau tidak, selalu terlibat dengan proses dalam mekanisme masyarakat itu. Tiap-tiap pribadi tidak saja menjadi warga masyarakat secara pasif, melainkan dalam kondisi-kondisi tertentu ia menjadi warga masyarakat yang  aktif. Suatu kenyataan masyarakat bahwa kita hidup bergaul, bekerja sampai meninggal dunia didalam masyarakat. Masyarakat sebagai lembaga hidup bersama, sebagai suatu Gemeinschafts, bahkan tidak dapat dipisahkan dari pada warga masyarakatnya dengan segala antar hubungan dan antaraksi yang berlangsung didalamnya.
            Untuk mengerti hakikat masyarakat, bagaimana kedudukan pribadi (individu), apa peranan hak dan kewajiban warga masyarakat kepada masyarakat, maka secara ringkas diuraikan hal-hal berikut[1].







BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN MASYARAKAT
            Istilah masyarakat berasal dari kata musyarak yang berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Society. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dan terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama dan hidup bersama dalam suatu hubungan sosia, dan masyarakat juga merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia, atau suatu kelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah dengan tatacara berfikir dan bertindak relatif.
            Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas. Dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi. Dengan demikian masyarakat dapat diartikan sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar aksi warga masyarakat itu.
            Di sisi lain Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) diartikan sebagai sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
            Secara umum masyarakat adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan. Anggota masyarakat terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku, bangsa, agama, maupun lapisan sosial sehingga menjadi masyarakat yang majemuk. Secara langsung dan tidak langsung setiap anggota masyarakat tersebut telah menjalin komunikasi mengadakan kerja sama dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan[2].
            Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
B.     PENGERTIAN MASYARAKAT MENURUT PENDAPAT PARA AHLI:
1.      Quraish Sihab
Dalam bukunya berjudul Wawasan Al-Qur`an menguraikan, masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu (kecil atau besar) yang etrikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas dan hidup bersama.
2.      Peter I. Berger
Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya.Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
3.      Marx
Masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya.
4.      Gillin & Gillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
5.      Harold j. Laski
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama
6.      Robert Maciver
Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan (society means a system of ordered relations).
7.      Selo Soemardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
8.      Horton &Hunt
Masyarakat adalah suatu organisasi manusai yang saling berhubungan.
9.      Mansur Fakih
Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari keseimbangan  (equilibrium) dan harmoni.
            Prof. Robert W. Richey dalam bukunya: “Planning for Teaching an Introduction to Education” membuat batasan masyarakat. Istilah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir dan bertindak yang relatif. Oqburn dan Nimkoff menjelaskan istilah masyarakat sesungguhnya dipergunakan dalam pengertian yang amat luas. Perserikatan bangsa-bangsa meliputi masyarakat antara bangsa-bangsa bahkan kita kadang-kadang menyebutnya masyarakat dunia. Pengertian masyarakat kadang-kadang dipakai untuk menyatakan seluruh wilayah, negara atau bangsa. Berdasarkan pengertian ini, maka pengertian masyarakat (relatif) luas wilayahnya, dan meliputi (relatif) banyak anggota atau warganya. Oleh karena jumlahnya yang relatif besar, akan terjadi pula “masyarakat” di dalam masyarakat tersebut. Ada bermacam-macam faktor yang menyebabkan terbentuknya “masyarakat” dimaksud. Terjadilah pembedaan-pembedaan yang dikenal dengan istilah “masyarakat kota”, “masyarakat desa”, “masyarakat pendalaman”, ada pula “masyarakat atas”, “masyarakat bawah”, dan sebagainya[3].
            Dengan pembedaan seperti ini, secara implisit dapat dimengerti apa dasar daripada penamaan atau penggolongan itu. Kota besar misalnya, yang warganya jauh lebih banyak jumlahnya daripada di desa, antar warga masyarakat dan lebih banyak variasinya. Dengan kata lain, disana lebih heterogen. Kenyataan menunjukkan bahwa di kota-kota besar hidup manusia dari segala tingkat. Dari pejabat-pejabat tinggi negara, pengusaha-pengusaha besar, kaum cerdik pandai, sampai buruh-buruh kecil. Jarak sosial diantara mereka sedemikian rupa, sehingga terbentuklah apa yang dikenal sebagai kelas sosial. Secara umum kelas sosial di dalam masyarakat ini terbagi atas : kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class).
C.     PENGERTIAN MASYARAKAT DIDALAM AL-QUR’AN
            Masyarakat atau kumpulan disinggung dalam Al-Qur`an di tunjukki dari berbagai macam asal kata; qaum (قوم), ummah (امة), syu’ub (شعوب), qabail (قبائل). Selain itu juga, Al-Qur`an memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu, seperti al-mala`, al-mustakbirun, al-mustadh`afun dan lain sebagainya.
            Masyarakat atau sering dikatakan sekelompok manusia dalam pandangan sosiologis yang menjadi obyek ilmu-ilmu sosial ditinjau dari beberapa segi; segi ekonomi – yang antara lain membahas tentang produksi, distribusi, dan penggunaan barang-barang dan jasa-jasa serta segi politik – yang antara lain membahas tentang penggunaan kekuasaan[4], dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang sekiranya membahas tentang masyarakat.
            Manusia sebagai pelaku dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang sering dikatakan sebagai makhluk sosial yakni prilaku atau tindakan tidak hanya bergantung pada diri sendiri melainkan ia membutuhkan makhluk yang lain agar bisa bertahan hidup. Al-Qur`an sebagai pedoman hidup yang maha terjaga hingga akhir hayat, banyak sekali yang berbicara tentang masyarakat. Masyarakat atau bahasa persamaannya seperti kaum (sebanyak 224 kali), suku (3 kali), bangsa (2 kali) dengan berbagai macam redaksi kata-katanya di ucap dalam Al-Qur`an (Holy Qur`an). Bahkan tidak berlebihan jika Al-Qur`an bisa dikatakan merupakan buku pertama yang membahas, memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.
            Dalam ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima nabi (al-alaq [96] : 2) dapat dipahami dalam ayat tersebut, خلق الإنسان من علق  bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet dalam rahim”, tetapi juga dapat dipahami sebagai “diciptakannya dinding rahim dalam keadaan selalu bergantung pada orang lain”. Persamaan pemahaman juga seperti dalam konteks ayat lain pada surat Al-Hujurat [49] : 13, dimana dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki (ذكر) dan wanita (أنثى) bersuku-suku (شعوبا), berbangsa-bangsa (قبائل) agar mereka saling kenal-mengenal (لتعارفوا). Maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur`an juga menyimpulkan, manusia secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. Di sisi lain juga, ada ayat Al-Qur`an menjelaskan bahwa kecerdasan, kemampuan, status sosial manusia berbeda-beda, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Zukhruf [43] : 32,  diuraikan bahwa kehidupan masyarakat merupakan sesuatu yang lahir dari naluri alamiah masing-masing manusia[5].
            Maka, hakekat dari masyarakat itu sendiri terletak pada amalnya. Amal sebagai bahan tolak ukur dikemudian hari, sebab dalam suatu riwayat pernah dikatakan manusia yang ketika di hadapkan pada sang pencipta yang dilihat hanyalah amal perbuatannya yang menciptakan keragaman ketaqwaan dari masyarakat itu sendiri. Selaras dengan hal tersebut Al-Qur`an menguraikan dalam surat al-Jatsiyah [45] : 28, “ .... tiap-tiap umat akan dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu diberi balasan sesuai dengan amalnya”. Hal ini bermaksudkan pada saat itu tiap-tiap orang akan diberi balasan karena amalan-amalanmu yang baik ataupun buruk.
D.    TEORI KE-EKSIS-AN
            Masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi sehingga memiliki kesadaran dan spirit kolektif, serta cita-cita atau kebutuhan kolektif. Kesadaran dan spirit kolektif, serta cita-cita atau kebutuhan kolektif muncul karena proses antar hubungan (interaksi) dan antar aksi (reaksi). Masyarakat adalah kumpulan individu, siapa yang eksis: masyarakat atau individu?
1.      Teori pertama
Yang eksis Individu. Eksistensi masyarakat fiktif/imajiner (individu tdk lebur dalam masyarakat seperti senyawa kimia).
2.      Teori kedua
Yang eksis Individu. Eksistensi masyarakat bersifat sintetik seperti mesin (kebebasan individu hilang, namun identitasnya tidak).
3.      Teori ketiga
Yang eksis Individu (dgn alasan teori 1), tapi masyarakat juga eksis karena memberi identitas sosial (pikiran, emosi, cita-cita) pada individu-individu yg berinteraksi.
4.      Teori keempat
Yang eksis masyarakat (ada kesadaran kolektif, spiritkolektif, kebutuhan/cita-cita kolektif). Yangdimiliki individu manifestasi dari milik kolektif.
E.     CIRI-CIRI MASYARAKAT/PERADABAN[6]
            Didalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan mengenai ciri-ciri masyarkat/ peradaban. Berikut ciri-ciri masyarakat/ peradaban:
1.      Masyarakat memiliki moral sebagai basis/faktor utama dalam bertindak.
a.       QS. Al-Israa’ (17): 16
!#sŒÎ)ur !$tR÷Šur& br& y7Î=ökX ºptƒös% $tRötBr& $pkŽÏùuŽøIãB (#qà)|¡xÿsù $pkŽÏù ¨,yÛsù $pköŽn=tæ ãAöqs)ø9$# $yg»tRö¨Bysù #ZŽÏBôs? ÇÊÏÈ
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
b.      QS. Al-Hajj (22): 45
ûÉiïr(s3sù `ÏiB >ptƒös% $yg»oYõ3n=÷dr& šÉfur ×pyJÏ9$sß }Îgsù îptƒÍr%s{ 4n?tã $ygÏ©rããã 9Žø§Î/ur 7's#©ÜyèB 9ŽóÇs%ur >ϱ¨B ÇÍÎÈ
Berapalah banyaknya kota yang kami Telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang Telah ditinggalkan dan istana yang tinggi.
c.       QS. Al-Qasas (28): 58:
öNx.ur $uZò6n=÷dr& `ÏB ¥ptƒös% ôNtÏÜt/ $ygtGt±ŠÏètB ( šù=ÏFsù öNßgãYÅ3»|¡tB óOs9 `s3ó¡è@ .`ÏiB óOÏdÏ÷èt/ žwÎ) WxÎ=s% ( $¨Zà2ur ß`øtwU šúüÏOͺuqø9$# ÇÎÑÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang Telah kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; Maka Itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. dan kami adalah Pewaris(nya)[7].
2.      Keluarga sebagai kelompok inti
a.       QS. Muhammad (47): 22:
ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
b.      QS. Luqman (31): 13-15:
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur š#yyg»y_ #n?tã br& šÍô±è@ Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ
13.  Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14.  Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[8]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
3.      Lintas Ras dan Etnis
a.       QS. Al-Hujurat (49): 13:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
b.      QS. An-Nisa (4): 1:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`Í #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnöF{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3øn=tæ $Y6ŠÏ%u ÇÊÈ
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[9] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[10], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.
4.      Harmoni dengan alama
a.       QS. Al-A’raaf (7): 31:
* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#räè{ ö/ä3tGt^ƒÎ yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÌÊÈ
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[11], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[12]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
b.      QS. Al-Hajj (22): 18:
óOs9r& ts? žcr& ©!$# ßàfó¡o ¼çms9 `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# `tBur Îû ÇÚöF{$# ß§ôJ¤±9$#ur ãyJs)ø9$#ur ãPqàfZ9$#ur ãA$t7Ågø:$#ur ãyf¤±9$#ur >!#ur¤$!$#ur ׎ÏVŸ2ur z`ÏiB Ĩ$¨Z9$# ( ÏWx.ur ¨,ym Ïmøn=tã Ü>#xyèø9$# 3 `tBur Ç`Íkç ª!$# $yJsù ¼çms9 `ÏB BQ̍õ3B 4 ¨bÎ) ©!$# ã@yèøÿtƒ $tB âä!$t±o ) ÇÊÑÈ
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.
5.      Mengakui eksistensi individu, disamping masyarakat
a.       QS. Al-An’am (6): 164:
ö@è% uŽöxîr& «!$# ÓÈöö/r& $|/u uqèdur >u Èe@ä. &äóÓx« 4 Ÿwur Ü=Å¡õ3s? @à2 C§øÿtR žwÎ) $pköŽn=tæ 4 Ÿwur âÌs? ×ouÎ#ur uøÍr 3t÷zé& 4 §NèO 4n<Î) /ä3În/u ö/ä3ãèÅ_ó£D /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ öNçFZä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tGøƒrB ÇÊÏÍÈ
Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[13]. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."

b.      QS. Al-Jatsiyah (45): 28:
3ts?ur ¨@ä. 7p¨Bé& ZpuŠÏO%y` 4 @ä. 7p¨Bé& #Ótçôè? 4n<Î) $pkÈ:»tGÏ. tPöquø9$# tb÷rtøgéB $tB ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇËÑÈ
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.
F.      SEBAB BANGUN-JATUH MASYARAKAT/PERADABAN:
            Sejarah perkembangan masyarakat adalah sejarah adanya manusia dan peradaban. Masyarakat juga mempunyai potensi bangun-jatuh dalam perkembangannya. Berikkut sebab-sebab bangun-jatuh masyarakat/peradaban:
1.      Sebab bangun
a.       Aktualisasi sarana dasar memperoleh pengetahuan
QS. An-Nahl (16): 78:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
b.      Moralitas (Implisit pada sebab jatuh)
2.      Sebab jatuh
a.       Zalim (tirani, penindasan, ketidakadilan)
QS. Al-Hajj(22): 45:
ûÉiïr(s3sù `ÏiB >ptƒös% $yg»oYõ3n=÷dr& šÉfur ×pyJÏ9$sß }Îgsù îptƒÍr%s{ 4n?tã $ygÏ©rããã 9Žø§Î/ur 7's#©ÜyèB 9ŽóÇs%ur >ϱ¨B ÇÍÎÈ
Berapalah banyaknya kota yang kami Telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang Telah ditinggalkan dan istana yang tinggi,
QS. Al-Anbiya’(21): 11:
öNx.ur $oYôJ|Ás% `ÏB 7ptƒös% ôMtR%x. ZpyJÏ9$sß $tRù't±Sr&ur $ydy÷èt/ $·Böqs% šúï̍yz#uä ÇÊÊÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah kami binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).
b.       Hedonisme (pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup)
QS. Al-Qasas(28): 58:
öNx.ur $uZò6n=÷dr& `ÏB ¥ptƒös% ôNtÏÜt/ $ygtGt±ŠÏètB ( šù=ÏFsù öNßgãYÅ3»|¡tB óOs9 `s3ó¡è@ .`ÏiB óOÏdÏ÷èt/ žwÎ) WxÎ=s% ( $¨Zà2ur ß`øtwU šúüÏOͺuqø9$# ÇÎÑÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang Telah kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; Maka Itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. dan kami adalah Pewaris(nya)[14].
c.       Kemewahan, serba banyak dan berlebih-lebihan
QS. Al-Israa’(17): 16:
!#sŒÎ)ur !$tR÷Šur& br& y7Î=ökX ºptƒös% $tRötBr& $pkŽÏùuŽøIãB (#qà)|¡xÿsù $pkŽÏù ¨,yÛsù $pköŽn=tæ ãAöqs)ø9$# $yg»tRö¨Bysù #ZŽÏBôs? ÇÊÏÈ
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.


KESIMPULAN
            Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang hidup bersama disuatu wilayah dengan tatacara berfikir dan bertindak yang (relatif) semua yang membuat warga masyarakat itu menyadari  diri mereka sebagai satu kesatuan atau kelompok.
            Mekanisme dalam suatu masyarakat itu yaitu dengan adanya lembaga-lembaga yang ada dengan segala fungsinya. Sebenarnya bersumber dari pandangan pandangan keseluruhan warga masyarakat itu tentang sistem nilai. Sistem nilai adalah sebagai daripada filsafat kehidupan yang mereka miliki. Bahkan bagaimana manusia memandang hakikat masyarakat, dan sudah tentu dengan konsekuensi-konsekuensinya, bersumber dari pandangan filsafat hidup itu. Dengan demikian, benarlah bahwa filsafat hidup itu merupakan sumber nilai bagi kehidupan manusia.
            Kebudayaan sebagai wujud eksistensi diri dalam mewujudkan totalitas diri yang disebut ‘amal, manusia terus mengada dan menjadi (meninggalkan keberadaannya yang lalu, menjadi ada yang baru kemudian terlampaui lagi, akhirnya mati) pada tahap ini manusia dikenang melalui perbuatannya. Karena proses eksistensi maka perjuangan tidak pernah selesai. Untuk membentuk kebudayaan dibutuhkan pendidikan, karena dari pendidikan lahir kebudayaan[15].         
            Maka, hakekat dari masyarakat itu sendiri terletak pada amalnya. Amal sebagai bahan tolak ukur dikemudian hari, sebab dalam suatu riwayat pernah dikatakan manusia yang ketika di hadapkan pada sang pencipta yang dilihat hanyalah amal perbuatannya yang menciptakan keragaman ketaqwaan dari masyarakat itu sendiri





DAFTAR PUSTAKA
Murtadha Muthahhari,.Manusia dan Alam Semesta, Jakarta: Lentera, 2002
            Nasir, Zainuddin, Mohd,. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2010

            Syam, Mohammad Noor,. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pencasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1989





[1] Mohammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hal. 183-184.
[2] Zainuddin D Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2010), hal. 41
[3] Mohammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hal. 185
[4] Soekanto : 16
[5] Quraish Shihab : 319-320
[6] Peradaban: kemajuan kebudayaan lahir dan batin
[7] Maksudnya: sesudah mereka hancur tempat itu sudah kosong dan tidak dimakmurkan lagi, hingga kembalilah ia kepada pemiliknya yang hakiki yaitu Allah.
[8] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[9] Maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[10] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
[11] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[12] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
[13] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.
[14] Maksudnya: sesudah mereka hancur tempat itu sudah kosong dan tidak dimakmurkan lagi, hingga kembalilah ia kepada pemiliknya yang hakiki yaitu Allah
[15] Budaya: akal budi, gagasan, warisan sosial, nilai, kebiasaan, (materi/non materi). Kebudayaan: keseluruhan kemajuan yang dicapai manusia. Revolusi kebudayaan dapat dilakukan dalam berfikir seperti mengubah pandangan dan paradigma berfikir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar