MAKALAH
HAKEKAT MASYARAKAT
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah FPI (Filsafat Pendidikan Islam) yang diampu oleh bapak Dr. Muhammad Abdul Fattah Santo, M.Ag
Disusun Oleh:
Eko Haryanto (G000120074)
Ridwan Agus Masni (G000130153)
Muhammad Mustafa (G000140108)
TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puja
dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan
sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang berbahagia ini. Shalawat serta
salam kita junjungkan kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membebaskan kita dari
kejahiliyahan.
Makalah ini penting untuk
dibahas pada kali ini, untuk memahami Hakekat Masyarakat dalam menempuh mata
kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
Makalah
ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang Hakekat Masyarakat yang mudah-mudahan bermafaat
bagi pembaca dan khususnya bagi pemakalah.
Pemakalah
menyadari, bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan untuk perbaikan
makalah yang akan datang. Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya. Aamiin.
Sukoharjo, September 2014
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN...........................................................................................................2
A.
PENGERTIAN
MASYARAKAT..................................................................................2
B.
PENGERTIAN MASYARAKAT MENURUT PENDAPAT PARA
AHLI.................3
C.
PENGERTIAN MASYARAKAT DIDALAM AL-QUR’AN......................................4
D.
TEORI
KE-EKSIS-AN..................................................................................................6
E.
CIRI-CIRI
MASYARAKAT/PERADABAN................................................................6
F.
SEBAB
BANGUN-JATUH MASYARAKAT/PERADABAN..................................11
BAB
III PENUTUP..................................................................................................................13
DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
Masyarakat adalah
suatu perwujudan kehidupan bersama manusia. Dalam masyarakat berlangsung proses
kehidupan sosial yaitu proses antar hubungan dan interaksi. Di dalam masyarakat
sebagai suatu lembaga kehidupan manusia berlangsung pula keseluruhan
perkembangan kehidupan manusia. Masyarakat dapat diartikan suatu wadah atau
medan tempat berlangsungnya interaksi warga masyarakat. Masyarakat juga bisa
diartikan sebagai subjek, yakni sebagai perwujudan warga masyarakat dengan
semua sifat (watak) dalam suatu gejala dan manifestasi tertentu atau
keseluruhan, sosio psikologisnya.
Setiap warga
masyarakat sadar atau tidak, selalu terlibat dengan proses dalam mekanisme
masyarakat itu. Tiap-tiap pribadi tidak saja menjadi warga masyarakat secara
pasif, melainkan dalam kondisi-kondisi tertentu ia menjadi warga masyarakat
yang aktif. Suatu kenyataan masyarakat
bahwa kita hidup bergaul, bekerja sampai meninggal dunia didalam masyarakat.
Masyarakat sebagai lembaga hidup bersama, sebagai suatu Gemeinschafts, bahkan
tidak dapat dipisahkan dari pada warga masyarakatnya dengan segala antar
hubungan dan antaraksi yang berlangsung didalamnya.
Untuk mengerti
hakikat masyarakat, bagaimana kedudukan pribadi (individu), apa peranan hak dan
kewajiban warga masyarakat kepada masyarakat, maka secara ringkas diuraikan
hal-hal berikut[1].
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
MASYARAKAT
Istilah masyarakat
berasal dari kata musyarak yang berasal dari Bahasa Arab yang memiliki
arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut
Society. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia
yang berinteraksi dan terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu,
konvensi dan hukum tertentu yang sama dan hidup bersama dalam suatu hubungan
sosia, dan masyarakat
juga merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia, atau suatu kelompok
manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah dengan tatacara berfikir dan
bertindak relatif.
Mereka mempunyai
kesamaan budaya, wilayah, dan identitas. Dalam masyarakat berlangsung proses
kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi. Dengan demikian
masyarakat dapat diartikan sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar
aksi warga masyarakat itu.
Di sisi lain
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) diartikan sebagai
sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi
terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang
berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar
dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat
adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat
adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain).
Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup
bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Secara umum
masyarakat adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah
dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan. Anggota masyarakat
terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku, bangsa, agama,
maupun lapisan sosial sehingga menjadi masyarakat yang majemuk. Secara langsung
dan tidak langsung setiap anggota masyarakat tersebut telah menjalin komunikasi
mengadakan kerja sama dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan[2].
Menurut Syaikh
Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah
masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama.
Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka
berdasarkan kemaslahatan.
B.
PENGERTIAN MASYARAKAT MENURUT PENDAPAT PARA
AHLI:
1.
Quraish Sihab
Dalam bukunya berjudul Wawasan Al-Qur`an
menguraikan, masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu (kecil atau
besar) yang etrikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas dan hidup bersama.
2.
Peter
I. Berger
Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan
manusia yang luas sifatnya.Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan
itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
3.
Marx
Masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik
produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi
ekonomis, yakni teknik dan karya.
4.
Gillin
& Gillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan,
tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
5.
Harold
j. Laski
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama
untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama
6.
Robert
Maciver
Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan (society
means a system of ordered relations).
7.
Selo
Soemardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan
kebudayaan.
8.
Horton
&Hunt
Masyarakat adalah suatu organisasi manusai yang saling berhubungan.
9.
Mansur
Fakih
Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian
yang saling berkaitan dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari
keseimbangan (equilibrium) dan
harmoni.
Prof. Robert W.
Richey dalam bukunya: “Planning for Teaching an Introduction to Education”
membuat batasan masyarakat. Istilah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu
kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir
dan bertindak yang relatif. Oqburn dan Nimkoff menjelaskan istilah masyarakat
sesungguhnya dipergunakan dalam pengertian yang amat luas. Perserikatan
bangsa-bangsa meliputi masyarakat antara bangsa-bangsa bahkan kita
kadang-kadang menyebutnya masyarakat dunia. Pengertian masyarakat kadang-kadang
dipakai untuk menyatakan seluruh wilayah, negara atau bangsa. Berdasarkan
pengertian ini, maka pengertian masyarakat (relatif) luas wilayahnya, dan
meliputi (relatif) banyak anggota atau warganya. Oleh karena jumlahnya yang
relatif besar, akan terjadi pula “masyarakat” di dalam masyarakat tersebut. Ada
bermacam-macam faktor yang menyebabkan terbentuknya “masyarakat” dimaksud.
Terjadilah pembedaan-pembedaan yang dikenal dengan istilah “masyarakat kota”,
“masyarakat desa”, “masyarakat pendalaman”, ada pula “masyarakat atas”, “masyarakat
bawah”, dan sebagainya[3].
Dengan pembedaan
seperti ini, secara implisit dapat dimengerti apa dasar daripada penamaan atau
penggolongan itu. Kota besar misalnya, yang warganya jauh lebih banyak
jumlahnya daripada di desa, antar warga masyarakat dan lebih banyak variasinya.
Dengan kata lain, disana lebih heterogen. Kenyataan menunjukkan bahwa di
kota-kota besar hidup manusia dari segala tingkat. Dari pejabat-pejabat tinggi
negara, pengusaha-pengusaha besar, kaum cerdik pandai, sampai buruh-buruh
kecil. Jarak sosial diantara mereka sedemikian rupa, sehingga terbentuklah apa
yang dikenal sebagai kelas sosial. Secara umum kelas sosial di dalam masyarakat
ini terbagi atas : kelas atas (upper class), kelas menengah (middle
class) dan kelas bawah (lower class).
C.
PENGERTIAN MASYARAKAT DIDALAM AL-QUR’AN
Masyarakat
atau kumpulan disinggung dalam Al-Qur`an di tunjukki dari berbagai macam asal
kata; qaum (قوم),
ummah (امة),
syu’ub (شعوب),
qabail (قبائل).
Selain itu juga, Al-Qur`an memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat
tertentu, seperti al-mala`, al-mustakbirun, al-mustadh`afun dan lain
sebagainya.
Masyarakat atau sering dikatakan sekelompok
manusia dalam pandangan sosiologis yang menjadi obyek ilmu-ilmu sosial ditinjau
dari beberapa segi; segi ekonomi – yang antara lain membahas tentang produksi,
distribusi, dan penggunaan barang-barang dan jasa-jasa serta segi politik –
yang antara lain membahas tentang penggunaan kekuasaan[4],
dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang sekiranya membahas tentang masyarakat.
Manusia sebagai pelaku dalam tatanan kehidupan
bermasyarakat yang sering dikatakan sebagai makhluk sosial yakni prilaku atau
tindakan tidak hanya bergantung pada diri sendiri melainkan ia membutuhkan
makhluk yang lain agar bisa bertahan hidup. Al-Qur`an sebagai pedoman hidup
yang maha terjaga hingga akhir hayat, banyak sekali yang berbicara tentang
masyarakat. Masyarakat atau bahasa persamaannya seperti kaum (sebanyak 224
kali), suku (3 kali), bangsa (2 kali) dengan berbagai macam redaksi
kata-katanya di ucap dalam Al-Qur`an (Holy Qur`an). Bahkan tidak
berlebihan jika Al-Qur`an bisa dikatakan merupakan buku pertama yang membahas,
memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.
Dalam ayat kedua dari wahyu pertama yang
diterima nabi (al-alaq [96] : 2) dapat dipahami dalam ayat tersebut, خلق الإنسان من علق bukan saja diartikan sebagai “menciptakan
manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet dalam rahim”,
tetapi juga dapat dipahami sebagai “diciptakannya dinding rahim dalam
keadaan selalu bergantung pada orang lain”. Persamaan pemahaman juga
seperti dalam konteks ayat lain pada surat Al-Hujurat [49] : 13, dimana dalam
ayat tersebut dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki (ذكر) dan wanita (أنثى) bersuku-suku (شعوبا), berbangsa-bangsa (قبائل) agar mereka saling
kenal-mengenal (لتعارفوا).
Maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur`an juga menyimpulkan, manusia secara fitri
adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi
mereka. Di sisi lain juga, ada ayat Al-Qur`an menjelaskan bahwa kecerdasan,
kemampuan, status sosial manusia berbeda-beda, sebagaimana termaktub dalam
surat Al-Zukhruf [43] : 32, diuraikan
bahwa kehidupan masyarakat merupakan sesuatu yang lahir dari naluri alamiah
masing-masing manusia[5].
Maka,
hakekat dari masyarakat itu sendiri terletak pada amalnya. Amal sebagai bahan
tolak ukur dikemudian hari, sebab dalam suatu riwayat pernah dikatakan manusia
yang ketika di hadapkan pada sang pencipta yang dilihat hanyalah amal
perbuatannya yang menciptakan keragaman ketaqwaan dari masyarakat itu sendiri.
Selaras dengan hal tersebut Al-Qur`an menguraikan dalam surat al-Jatsiyah [45]
: 28, “ .... tiap-tiap umat akan dipanggil untuk (melihat) buku catatan
amalnya. Pada hari itu diberi balasan sesuai dengan amalnya”. Hal ini
bermaksudkan pada saat itu tiap-tiap orang akan diberi balasan karena
amalan-amalanmu yang baik ataupun buruk.
D.
TEORI
KE-EKSIS-AN
Masyarakat adalah kumpulan
individu yang saling berinteraksi sehingga memiliki kesadaran dan spirit
kolektif, serta cita-cita atau kebutuhan kolektif. Kesadaran dan spirit
kolektif, serta cita-cita atau kebutuhan kolektif muncul karena proses antar
hubungan (interaksi) dan antar aksi (reaksi). Masyarakat adalah kumpulan
individu, siapa yang eksis: masyarakat atau individu?
1.
Teori
pertama
Yang eksis Individu. Eksistensi masyarakat fiktif/imajiner (individu tdk lebur dalam masyarakat seperti senyawa
kimia).
2.
Teori
kedua
Yang eksis Individu. Eksistensi masyarakat bersifat sintetik seperti mesin (kebebasan
individu hilang, namun identitasnya tidak).
3.
Teori
ketiga
Yang eksis Individu (dgn alasan teori 1), tapi masyarakat juga eksis karena memberi identitas sosial (pikiran,
emosi, cita-cita) pada individu-individu yg
berinteraksi.
4.
Teori
keempat
Yang eksis masyarakat (ada kesadaran
kolektif, spiritkolektif, kebutuhan/cita-cita kolektif). Yangdimiliki individu
manifestasi dari milik kolektif.
E.
CIRI-CIRI
MASYARAKAT/PERADABAN[6]
Didalam Al-Qur’an
banyak ayat yang menjelaskan mengenai ciri-ciri masyarkat/ peradaban. Berikut
ciri-ciri masyarakat/ peradaban:
1.
Masyarakat
memiliki moral sebagai basis/faktor utama dalam bertindak.
a.
QS.
Al-Israa’ (17): 16
!#sÎ)ur !$tR÷ur& br& y7Î=ökX ºptös% $tRötBr& $pkÏùuøIãB (#qà)|¡xÿsù $pkÏù ¨,yÛsù $pkön=tæ ãAöqs)ø9$# $yg»tRö¨Bysù #ZÏBôs? ÇÊÏÈ
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami
perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati
Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah
sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
b.
QS.
Al-Hajj (22): 45
ûÉiïr(s3sù `ÏiB >ptös% $yg»oYõ3n=÷dr& Éfur ×pyJÏ9$sß }Îgsù îptÍr%s{ 4n?tã $ygÏ©rããã 9ø§Î/ur 7's#©ÜyèB 9óÇs%ur >ϱ¨B ÇÍÎÈ
Berapalah banyaknya kota yang kami Telah membinasakannya, yang
penduduknya dalam keadaan zalim, Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi
atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang Telah ditinggalkan dan istana
yang tinggi.
c.
QS.
Al-Qasas (28): 58:
öNx.ur $uZò6n=÷dr& `ÏB ¥ptös% ôNtÏÜt/ $ygtGt±ÏètB ( ù=ÏFsù öNßgãYÅ3»|¡tB óOs9 `s3ó¡è@ .`ÏiB óOÏdÏ÷èt/ wÎ) WxÎ=s% ( $¨Zà2ur ß`øtwU úüÏOͺuqø9$# ÇÎÑÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang Telah kami binasakan,
yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; Maka Itulah tempat kediaman
mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. dan
kami adalah Pewaris(nya)[7].
2.
Keluarga sebagai kelompok inti
a. QS.
Muhammad (47): 22:
ö@ygsù óOçFø|¡tã bÎ) ÷Läêø©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan
di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
b. QS.
Luqman (31): 13-15:
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[8].
bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah
kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya
kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
3.
Lintas Ras dan Etnis
a. QS.
Al-Hujurat (49): 13:
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
b. QS.
An-Nisa (4): 1:
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3/u Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`Í #ZÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnöF{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3øn=tæ $Y6Ï%u ÇÊÈ
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[9]
Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[10],
dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
Mengawasi kamu.
4.
Harmoni dengan alama
a. QS.
Al-A’raaf (7): 31:
* ûÓÍ_t6»t tPy#uä (#räè{ ö/ä3tGt^Î yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uõ°$#ur wur (#þqèùÎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) w =Ïtä tûüÏùÎô£ßJø9$# ÇÌÊÈ
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
mesjid[11],
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[12].
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
b. QS.
Al-Hajj (22): 18:
óOs9r& ts? cr& ©!$# ßàfó¡o ¼çms9 `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# `tBur Îû ÇÚöF{$# ß§ôJ¤±9$#ur ãyJs)ø9$#ur ãPqàfZ9$#ur ãA$t7Ågø:$#ur ãyf¤±9$#ur >!#ur¤$!$#ur ×ÏV2ur z`ÏiB Ĩ$¨Z9$# ( îÏWx.ur ¨,ym Ïmøn=tã Ü>#xyèø9$# 3 `tBur Ç`Íkç ª!$# $yJsù ¼çms9 `ÏB BQÌõ3B 4 ¨bÎ) ©!$# ã@yèøÿt $tB âä!$t±o ) ÇÊÑÈ
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang
ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan,
binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak
di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang
dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah
berbuat apa yang dia kehendaki.
5.
Mengakui eksistensi individu, disamping masyarakat
a. QS.
Al-An’am (6): 164:
ö@è% uöxîr& «!$# ÓÈöö/r& $|/u uqèdur >u Èe@ä. &äóÓx« 4 wur Ü=Å¡õ3s? @à2 C§øÿtR wÎ) $pkön=tæ 4 wur âÌs? ×ouÎ#ur uøÍr 3t÷zé& 4 §NèO 4n<Î) /ä3În/u ö/ä3ãèÅ_ó£D /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ öNçFZä. ÏmÏù tbqàÿÎ=tGørB ÇÊÏÍÈ
Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah,
padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa
melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[13].
Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa
yang kamu perselisihkan."
b. QS.
Al-Jatsiyah (45): 28:
3ts?ur ¨@ä. 7p¨Bé& ZpuÏO%y` 4 @ä. 7p¨Bé& #Ótçôè? 4n<Î) $pkÈ:»tGÏ. tPöquø9$# tb÷rtøgéB $tB ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇËÑÈ
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap
umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi
balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.
F.
SEBAB
BANGUN-JATUH MASYARAKAT/PERADABAN:
Sejarah
perkembangan masyarakat adalah sejarah adanya manusia dan peradaban. Masyarakat
juga mempunyai potensi bangun-jatuh dalam perkembangannya. Berikkut sebab-sebab
bangun-jatuh masyarakat/peradaban:
1.
Sebab
bangun
a.
Aktualisasi
sarana dasar memperoleh pengetahuan
QS.
An-Nahl (16): 78:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& w cqßJn=÷ès? $\«øx© @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 crãä3ô±s? ÇÐÑÈ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur.
b. Moralitas
(Implisit pada sebab jatuh)
2. Sebab
jatuh
a. Zalim
(tirani, penindasan, ketidakadilan)
QS. Al-Hajj(22): 45:
ûÉiïr(s3sù `ÏiB >ptös% $yg»oYõ3n=÷dr& Éfur ×pyJÏ9$sß }Îgsù îptÍr%s{ 4n?tã $ygÏ©rããã 9ø§Î/ur 7's#©ÜyèB 9óÇs%ur >ϱ¨B ÇÍÎÈ
Berapalah banyaknya kota yang kami Telah membinasakannya, yang
penduduknya dalam keadaan zalim, Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi
atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang Telah ditinggalkan dan istana
yang tinggi,
QS. Al-Anbiya’(21): 11:
öNx.ur $oYôJ|Ás% `ÏB 7ptös% ôMtR%x. ZpyJÏ9$sß $tRù't±Sr&ur $ydy÷èt/ $·Böqs% úïÌyz#uä ÇÊÊÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah kami
binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai
penggantinya).
b.
Hedonisme (pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama
dl hidup)
QS. Al-Qasas(28): 58:
öNx.ur $uZò6n=÷dr& `ÏB ¥ptös% ôNtÏÜt/ $ygtGt±ÏètB ( ù=ÏFsù öNßgãYÅ3»|¡tB óOs9 `s3ó¡è@ .`ÏiB óOÏdÏ÷èt/ wÎ) WxÎ=s% ( $¨Zà2ur ß`øtwU úüÏOͺuqø9$# ÇÎÑÈ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang Telah kami binasakan,
yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; Maka Itulah tempat kediaman
mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. dan
kami adalah Pewaris(nya)[14].
c. Kemewahan,
serba banyak dan berlebih-lebihan
QS. Al-Israa’(17): 16:
!#sÎ)ur !$tR÷ur& br& y7Î=ökX ºptös% $tRötBr& $pkÏùuøIãB (#qà)|¡xÿsù $pkÏù ¨,yÛsù $pkön=tæ ãAöqs)ø9$# $yg»tRö¨Bysù #ZÏBôs? ÇÊÏÈ
Dan
jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi
mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya.
KESIMPULAN
Masyarakat
merupakan suatu kelompok manusia yang hidup bersama disuatu wilayah dengan
tatacara berfikir dan bertindak yang (relatif) semua yang membuat warga
masyarakat itu menyadari diri mereka
sebagai satu kesatuan atau kelompok.
Mekanisme dalam
suatu masyarakat itu yaitu dengan adanya lembaga-lembaga yang ada dengan segala
fungsinya. Sebenarnya bersumber dari pandangan pandangan keseluruhan warga
masyarakat itu tentang sistem nilai. Sistem nilai adalah sebagai daripada
filsafat kehidupan yang mereka miliki. Bahkan bagaimana manusia memandang
hakikat masyarakat, dan sudah tentu dengan konsekuensi-konsekuensinya,
bersumber dari pandangan filsafat hidup itu. Dengan demikian, benarlah bahwa
filsafat hidup itu merupakan sumber nilai bagi kehidupan manusia.
Kebudayaan sebagai
wujud eksistensi diri dalam mewujudkan totalitas diri yang disebut ‘amal,
manusia terus mengada dan menjadi (meninggalkan keberadaannya yang lalu,
menjadi ada yang baru kemudian terlampaui lagi, akhirnya mati) pada tahap ini
manusia dikenang melalui perbuatannya. Karena proses eksistensi maka perjuangan
tidak pernah selesai. Untuk membentuk kebudayaan dibutuhkan pendidikan, karena
dari pendidikan lahir kebudayaan[15].
Maka,
hakekat dari masyarakat itu sendiri terletak pada amalnya. Amal sebagai bahan
tolak ukur dikemudian hari, sebab dalam suatu riwayat pernah dikatakan manusia
yang ketika di hadapkan pada sang pencipta yang dilihat hanyalah amal
perbuatannya yang menciptakan keragaman ketaqwaan dari masyarakat itu sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Murtadha Muthahhari,.Manusia dan Alam Semesta, Jakarta:
Lentera, 2002
Nasir, Zainuddin, Mohd,. Filsafat
Pendidikan Islam, Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2010
Syam, Mohammad Noor,. Filsafat
Pendidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pencasila, Surabaya: Usaha
Nasional, 1989
[1] Mohammad Noor Syam,
Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, (Surabaya:
Usaha Nasional, 1986), hal. 183-184.
[2] Zainuddin D
Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis,
2010), hal. 41
[3] Mohammad Noor
Syam, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila,
(Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hal. 185
[6] Peradaban: kemajuan kebudayaan lahir dan batin
[7] Maksudnya:
sesudah mereka hancur tempat itu sudah kosong dan tidak dimakmurkan lagi,
hingga kembalilah ia kepada pemiliknya yang hakiki yaitu Allah.
[8] Maksudnya:
Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[9] Maksud dari
padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam
a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang
menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari
padanya Adam a.s. diciptakan.
[10] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu
atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As
aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
[11] Maksudnya:
tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau
ibadat-ibadat yang lain.
[12] Maksudnya:
janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui
batas-batas makanan yang dihalalkan.
[13] Maksudnya:
masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.
[14] Maksudnya: sesudah mereka hancur tempat itu sudah kosong dan tidak
dimakmurkan lagi, hingga kembalilah ia kepada pemiliknya yang hakiki yaitu
Allah
[15] Budaya: akal
budi, gagasan, warisan sosial, nilai, kebiasaan, (materi/non materi). Kebudayaan:
keseluruhan kemajuan yang dicapai manusia. Revolusi kebudayaan dapat dilakukan
dalam berfikir seperti mengubah pandangan dan paradigma berfikir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar