Kamis, 23 Oktober 2014

MAKALAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH

                                                                                            
MAKALAH

PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah PSPI yang diampu oleh
Bapak Dr. Badaruddin, M.Ag
Disusun Oleh:
Sunoto (G000120061)
Eko Haryanto (G000120074)
TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah segala puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang berbahagia ini. Shalawat serta salam kita junjungkan kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membebaskan kita dari kejahiliyahan.
            Makalah ini penting untuk dibahas pada kali ini, untuk memahami Peradaban Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah dalam menempuh mata kuliah Pendidikan Sejarah Peradaban Islam.
Makalah ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang  Peradaban Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah yang mudah-mudahan bermafaat bagi pembaca dan khususnya bagi pemakalah.
Pemakalah menyadari, bahwa  penulisan makalah ini masih jauh  dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan untuk perbaikan makalah yang akan datang. Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya. Aamiin. 


Sukoharjo, September 2014

Pemakalah








DAFTAR ISI
HALAMAN COVER..................................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................4
A.    Bani Umayah di Damaskus (661-750 M)......................................................................4
B.     Bani Umayah di Andalusia (756-1031 M).....................................................................9
C.     Sistem Pemerintahan Atau Politik................................................................................11
D.    Perkembangan Ilmu Sosial Dan Budaya......................................................................11
E.     Kondisi Sosial Ekonomi...............................................................................................14
F.      Kronologi Bani Ummayyah.........................................................................................16
G.    Rekonstruksi.................................................................................................................16
BAB III PENUTUP..................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................20









BAB I
PENDAHULUAN
            Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu Umayyah, Dinasti Umayyah) atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya (beribukota di Damaskus); serta dari 756 sampai 1031di Kordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Kordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I.
            Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun[1]. Ibu kota dipindahkan Muawiyyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Kholifah-kholifah besar pada masa dinasti Bani Umayah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sofyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705 M), Walid ibn Abd Malik (705-715 M), Umar ibn Abd Al-Aziz (717-720 M), dan Hasyim ibn Abd Al-malik (724-743 M)[2].
            Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan diAsia Tengah[3].
            Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
            Memasuki masa kekuasaan Muawiyyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun)[4]. Kekhalifahan Muawiyyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.[5]  Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah padahal tidak ada satu dalil pun dari al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mendukung pendapatnya.
            Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
            Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.
            Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang bersekutu dengan Abu Muslim Al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana[6]. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus.
            Bagaimanakah proses pemerintahan pada maa daulah Bani Umayyah? Bagaimana dengan kebijakan dan orientasi politik, hukum, serta ekonominya? Beberapa hal tadi adalah pembahaan dalam makalah ini. Serta akan kami bahas pula mengenai perkembangan sains dan teknologi, sistem sosial budaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan.














BAB II
PEMBAHASAN
A.    BANI UMAYYAH DI DAMASKUS (661-750 M)
1.      Perkembangan Bani Umayyah dan Perluasan Wilayah
            Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur kurang lebih 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yaitu setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, dan kemudian orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi'ah, dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.
            Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah Timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke Timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan[7].
            Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba[8]. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.
            Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin olehAburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.
            Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah[9].
            Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap[10]. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah[11].
            Meskipun keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah padahal tidak ada satu dalil pun dari al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mendukung pendapatnya.
            Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan[12].
            Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib danAbdullah bin Zubair Ibnul Awwam.
            Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah, Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia, Namun terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala[13], Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala[14] sebuah daerah di dekat Kufah.
            Kelompok Syi'ah sendiri, yang tertindas setelah kesyahidan pemimpin mereka Husain bin Ali, terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan di antaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi'ah secara keseluruhan.
            Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah secara biadab seperti yang diriwayatkan dalam sejarah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.
            Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.[15]
            Setelah itu, gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi'ah juga dapat diredakan. Keberhasilan ini membuat orientasi pemerintahan Bani Umayyah mulai dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur (meliputi kota-kota di sekitar Asia Tengah) dan wilayah Afrika bagian utara, bahkan membuka jalan untuk menaklukkan Spanyol (Al-Andalus). Selanjutnya hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz (717-720 M), di mana sewaktu diangkat sebagai khalifah, menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada menambah perluasannya[16], dimana pembangunan dalam negeri menjadi prioritas utamanya, meringankan zakat, kedudukan mawali disejajarkan dengan Arab. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun berhasil menyadarkan golongan Syi'ah, serta memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.
2.      Kemunduran Bani Umayyah
            Sepeninggal Umar bin Abdul-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul-Malik (720- 724 M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya[17].
            Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus.


B.     KEKHALIFAHAN BANI UMAYYAH DI ANDALUSIA (756-1031 M)
            Al-Andalus atau (kawasan Spanyol dan Portugis sekarang) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M), dimana tentara Islam yang sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah.
            Sejak pertama kali berkembang di Spanyol sampai dengan berakhirnya kekuasaan Islam di sana, islarn telah memainkan peranan yang sangat besar. Masa ini berlangsung selama hampir delapan abad(711-1492 M)[18] dibagi menjadi enam periode.[19]
            Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai tahun 132 H/ 750 M. Selama periode tersebut, para gubernur Umayyah di Andalusia berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran Poitiers didekat Tours pada tahun 114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan Abd Al–Rahman Al–Ghafiq di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam diutara pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika daulah Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin Muawiyah, cucu khalifah Umawiyah kesepuluh Hisyam Ibn Abd Malik, memproklamasikan propinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi itu. Andalusia memasuki babak baru sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah kekuasaan Bani Umayyah yang beribukota di Cordova sampai tahun 422H/1031M.[20]
            Pada tahap awal semenjak menjadi wilayah kekuasaan Islam, Spanyol diperintah oleh wali-wali yang diangkat oleh pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus (periode pertama). Pada periode ini kondisi sosial politik Spanyol masih diwarnai perselisihan disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Selain itu juga timbul gangguan dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di wilayah-wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur  Rahman al-Dhahil ke Spanyol pada tahun 755 M sampai pada kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang begitu pesat.[21]
Dalam proses penaklukan ini dimulai dengan kemenangan pertama yang dicapai oleh Tariq bin Ziyad membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Kemudian pasukan Islam dibawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Goth, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Zaragoza sampai Navarre.
            Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz tahun (717-720 M). Namun, ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada menambah perluasannya.[22] Sasaran perluasan wilayah ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitiers dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours, di kota ini ia ditahan oleh Charles Martel, yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Tours, al-Ghafiqi terbunuh sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara muslim mundur kembali ke Spanyol.
Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Goth bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, Raja Goth terakhir yang dikalahkan pasukan Muslimin. Awal kehancuran kerajaan Visigoth adalah ketika Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementaraWitiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderic. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderic yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang, selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Sewaktu penaklukan itu para pemimpin penaklukan tersebut terdiri dari tokoh-tokoh yang kuat, yang mempunyai tentara yang kompak, dan penuh percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
C.     SISTEM PEMERINTAHAN ATAU POLITIK
            Memasuki masa kekuasaan Muawiyyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis. Kekhalifahan Muawiyyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.[23]  
D.    PERKEMBANGAN ILMU SOSIAL DAN BUDAYA
1.      Kemajuan Intelektual[24]
     Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakt majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan bangunan fisik.
a)      Filsafat[25]
            Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai di kembangkan pada abad 9 H, selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad bin Abd Al rahman (832-886 H).
            Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammada ibn Al-sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajah. Tokoh yang lainnya yaitu, Abu Bakr ibn Tufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di timur Granada.
            Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusy dari Kordova. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.
b)      Sains[26]
            Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lainnya juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas termashur dalam bidang kimia dan astronomi. Ialah orang yang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya Al naqoss, terkenal dengan ilmu astronomi, ia dapat menentukan kapan dan lamanya gerhana matahari, ia juga berhasil menbuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang.
            Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahhirkan banyak pemmikir terkenal, Ibn Jubair menulis tentang negeri –negeri Islam. Ibnu Batutah mencapai sampai samudra pasai dan Cina. Ibn al Katib menyusun riwayat tentang Granada, sedangkan Ibnu Kaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah.
c)      Fikih[27]
            Dalam bidang fikih, dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd Al rahma, perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qodhi pada masa Hisyam Ibn Abd Rahman. Ahli fiqh lainnya yaitu, Abu Bakar ibn Al Quthiyah, Munzir ibn Said Al Baluty, dan Ibn Hazm.
d)     Music dan Kesenian[28]
            Dalam bidang music dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecermelangan dengan tokohnya Al Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Ia juga dikenal sebagai penggubahlagu. Ilmu yang dimilikinya diturunkan kepada kepada ank-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, ddan juga budak-budaaknya sehingga kemashurannya tersebar luas.
e)      Bahasa dan sastra[29]
            Bahasa Arab telah menjadi bahasa Administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal ini dapat di terima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan, penduduk asli spanyol menomorduakan bahasa mereka, mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik ketrampilan bahasa maupun tata bahasa.
            Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra banyak bermunculan sepertiAl iqd al Farid karya ibn Abd Rabbin, Al Dzakirah fi mahasin Ahl al Jazirah oleh Ibn Bassam, kitab Al qawaid karya Al Fath ibn Khaqan.
2.      Kemegahan Pembangunan Fisik.[30]
a)      Cordova
            Cordova adalah ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa Muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun diatas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-tamn dibangun untuk menghiasi ibu kota Spanyol Islam. Pohon-pohon dan bunga-bunga di impor dari timur. Di seputar ibu kota berdiri istana-istana yang megah,  setiap istana dan taman diberi nama sendiri-sendiri.
            Di antara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah masjid kordova, menurut Ibn Al Dalai, terdapat 491 masjid disana. Di samping itu,cirri khusus kota-kota Islam terdapat pemandian. Di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tidak dapat diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang panjangnya 80 Km.
b)      Granada[31]
            Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Disana terkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Kordova diambil alih oleh Granada dimasa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsistektur-arsistektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana Al hamra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsistektur Spanyol.
E.     KONDISI SOSIAL EKONOMI[32]   
1.      Kemajuan
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu, dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyat kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka garap.[33] Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat tertindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral (membunuh, merampas, atau membajak) mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.
Penaklukan oleh pasukan atas Andalusia memberi dampak positif yang luar biasa. Andalusia dijadikan tempat ideal dan pusat pengembangan budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran, obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia, kepada bangsa Vandhal, Goth dan Berber. Islam menegakkan keadilan yang belum dikenal sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya sendiri. Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa Muslim dan diberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap toleransi kaum muslim adalah perjanjian damai dengan pihak para penguasa yang telah ditaklukan. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang ditaklukkan itu ikut ambil bagian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para penguasa Muslim. Jadi Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan keyakinan. Saat ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan keadaan umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar dari pada belajar.
2.      Kemunduran
a)      Konflik Islam dengan Kristen[34]
Para pengusa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya managih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal ini menyebabkan kehidupan negara Islam di spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen.
b)      Tidak adanya ideology pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain, para mukalaf di perlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di damaskus, orang-orang arab tidak pernah menerima orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad 10 M, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para mukallaf itu, suatu istilah yang dianggap merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok non Arab yang ada seting menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideology yang dapat member makna pemersatu, di samping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideolodi itu.
c)      Kesulitan ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi polotik dan militer.
d)     Tidak jelasnya system peralihan kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karene inilah kekuasaan Bani Umayah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke Tangan Ferdinand dan Isabela, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini.
e)      Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dariAfrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternative yang mampu  membendung Kristen disana.
F.      KRONOLOGI BANI UMMAYYAH
·         661 M- Muawiyah menjadi khalifah dan mendirikan Bani Ummayyah.
·         670 M- Perluasan ke Afrika Utara. Penaklukan Kabul.
·         677 M- Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Serangan ke Konstantinopel.
·         680 M- Kematian Muawiyah. Yazid I menaiki takhta. Peristiwa pembunuhan Husain.
·         685 M- Khalifah Abdul-Malik menegaskan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.
·         700 M- Kampanye menentang kaum Barbar di Afrika Utara.
·         711 M- Penaklukan Spanyol, Sind, dan Transoxiana.
·         713 M- Penaklukan Multan.
·         716 M- Serangan ke Konstantinopel.
·         717 M- Umar bin Abdul-Aziz menjadi khalifah. Reformasi besar-besaran dijalankan.
·         725 M- Tentara Islam merebut Nimes di Perancis.
·         749 M- Kekalahan tentara Ummayyah di Kufah, Iraq terhadap tentara Abbasiyyah.
·         750 M- Damsyik direbut oleh tentara Abbasiyyah. Kejatuhan Kekhalifahan Bani               Ummaiyyah.
·         756 M- Abdurrahman Ad-Dakhil menjadi khalifah Muslim di Kordoba. Memisahkan        diri dari Abbasiyyah.
G.    REKONSTRUKSI
·         Sejarah merupakan pelajaran yang amat berharga bagi umat manusia yang hidup pada masa kini. Manusia tidak salah melangkah dalam bersikap dan berbuat.
·         Belajar sejarah mendorong umat manusia untuk bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga kerukunan serta kejayaan dapat terwujud.
·         Menyalahi perjanjian adalah sikap yang tidak terpuji yang berakibat timbulnya perselisihan dan perpecahan persaudaraan, seperti perjanjian yang dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
·         Kesungguhan dan kegigihan dalam berusaha dan kepiawaian dalam bertaktik akan membawa pada keberhasilan, seperti ekspansi yang dilakukan Daulah Bani Umayyah.
·         Islam mudah diterima di Spanyol karena penguasa Spanyol sangat kejam, tidak adil dan dzalim, serta tidak toleran terhadap penganut agama selain kristen.
·         Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang ditegakan atas dasar keadilan  dan kejujuran.
·         Pemerintahan yang adil akan membawa pada kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan.
·         Pemerintahan yang jujur akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menunjukan jalan ke surga.
·         Konflik politik internal didalam pemerintahan menyebabkan disintegrasi dan memperlemah kekuatan pemerintahan.
·         Kelemahan Kerajaan Andalusia pada akhir masa kejayaanya adalah dalam pertahanan. Seluruh energi ditumpahkan sepenuhnya untuk ilmu pengetahuan dan mengabaikan pembinaan pertahanan negara. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan kaum Kristen di Spanyol.



















BAB III
PENUTUP

Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu Umayyah, Dinasti Umayyah) atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya (beribukota di Damaskus); serta dari 756 sampai 1031di Kordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Kordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I.
Dalam ekspansinya, Bani Umayyah berhasil menguasai ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan diAsia Tengah[35].
            Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Seperti mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan, menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam dan mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam, membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap[36]. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah[37].
            Ketika Bani Umayyah menguasai Andalusia (Spanyol) dan menjadikan Ibukotanya disana, Bani Umayyah mengembangkan ilmu sosial dan budaya, seperti: mengembangkan Filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra. Dibidang Pembangunan Fisik seperti; di Kordova ada masjid kordova yang megah, di Granada yang Arsistektur-arsistektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa dan Istana Al-Hamra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsistektur Spanyol.
            Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad 10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada pertengahan abad ke 12 M , tibalah saatnya masa keruntuhan Islam.[38]
            Demikianlah sedikit gambaran mengenai Bani Umayyah sebenarnya masih banyak sumber-sumber lain yang menjelaskan keberadaan Bani Umayyah namun karena keterbatasan kami sehingga kami mengambil rujukan-rujukan yang mudah kami pahami.



















DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri.1994.Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.Jakarta: Raja Grafindo Persada

Supriyadi, Dedi.2008.Sejarah Perdaban Islam.Bandung: Pustaka Setia

Ghazzi, Luqman.2008.Penakluk Andalusia.Batu Caves: PTS Islamika

Abdul Latif Osman.1962.Ringkasan Sedjarah Islam.(Volume2)

Yayasan Nurul Islam.1997.Panji Masyarakat.(Volume 1)

Ali Shodiqin dkk.2004.Sejarah Peradaban Islam:Dari Masa Klasik Hingga Modern.Yogyakarta


[1] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 43
[2] Yatim, Badri , op. cip., hlm. 43. Lihat juga majalah Yayasan Nurul Islam.1997. Panji Masyarakat.(Volume 1). hlm. 52
[3] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 44.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014), hlm 42
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. ke-1, 1993), hlm 99
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014), hlm 48
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014), hlm 43.
[8] I b i d, hlm. 44.
[9] I b i d, hlm. 44.
[10] A. Syatibi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987), hlm 90-91
[11] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, 2014, Cet.ke-25), hlm. 45.
[12] I b i d, hlm. 45.
[13]  Lihat di Britannica Encyclopedia, Battle of Karbala
[14] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang, 1989), Hlm. 69.
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, 2014, Cet.ke-25), hlm. 46. Lihat juga W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wanaca Yogya, 1990), hlm. 23.
[16] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, (Bandung: CV Rusyda, 1987), hlm. 104
[17] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014, hlm 47
[18]  Ali Shodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004), hlm.79-80.
[19]  Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, 2008, hlm. 117
[20] Luqman Ghazzi, Penakluk Andalusia, (Batu Caves: PTS Islamika, 2008), hlm. 33
[21] Dedi Supriyadi, op. cit., hlm. 117
[22] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, (Bandung: CV Rusyda, 1987), hlm. 104. Lihat juga Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014), hlm 47
[23] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. ke-1, 1993), hlm. 99
[24] I b i d. hlm. 99
[25] I b i d. hlm. 99
[26] I b i d. hlm. 99
[27]I b i d. hlm. 100
[28] I b i d. hlm. 100
[29] I b i d. hlm. 100
[30] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, 2008.  hlm. 129
[31] I b i d, hlm. 129
[32] I b i d, hlm. 135
[33] I b i d. hlm. 135
[34] I b i d, hlm. 137
[35] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 44.
[36] A. Syatibi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987), hlm 90-91
[37] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, 2014, Cet.ke-25), hlm. 45.
[38]  Dedi Supriyadi.2008.Sejarah Peradaban Islam. hlm. 137

2 komentar:

  1. Casino Player Ratings and Reviews - DRMCD
    Casino Player Ratings and Reviews 강릉 출장마사지 · Casino Player Ratings 태백 출장샵 and Reviews · Casino Player Reviews · Casino Player Reviews · Casino Player Reviews 의왕 출장마사지 · Casino งานออนไลน์ Player Ratings 전라남도 출장마사지 and  Rating: 3 · ‎Review by DRMCD

    BalasHapus