MAKALAH
PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah PSPI
yang diampu oleh
Bapak Dr. Badaruddin, M.Ag
Disusun Oleh:
Sunoto (G000120061)
Eko Haryanto (G000120074)
TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puja
dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan
sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang berbahagia ini. Shalawat serta
salam kita junjungkan kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membebaskan kita dari
kejahiliyahan.
Makalah ini penting untuk
dibahas pada kali ini, untuk memahami Peradaban Islam Pada Masa Daulah Bani
Umayyah dalam menempuh mata kuliah Pendidikan Sejarah Peradaban Islam.
Makalah
ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang Peradaban Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah yang mudah-mudahan bermafaat bagi pembaca dan khususnya bagi pemakalah.
Pemakalah
menyadari, bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan untuk
perbaikan makalah yang akan datang. Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya. Aamiin.
Sukoharjo, September 2014
Pemakalah
DAFTAR ISI
HALAMAN
COVER..................................................................................................................i
KATA
PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN...........................................................................................................4
A.
Bani
Umayah di Damaskus (661-750 M)......................................................................4
B.
Bani
Umayah di Andalusia (756-1031 M).....................................................................9
C.
Sistem
Pemerintahan Atau Politik................................................................................11
D.
Perkembangan
Ilmu Sosial Dan Budaya......................................................................11
E.
Kondisi
Sosial Ekonomi...............................................................................................14
F.
Kronologi
Bani Ummayyah.........................................................................................16
G.
Rekonstruksi.................................................................................................................16
BAB III
PENUTUP..................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN
Bani Umayyah
(bahasa Arab: بنو
أمية, Banu Umayyah, Dinasti Umayyah) atau
Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur
Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya
(beribukota di Damaskus); serta dari 756 sampai 1031di Kordoba, Spanyol sebagai
Kekhalifahan Kordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin 'Abd
asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin
Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I.
Kekuasaan Bani
Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun[1].
Ibu kota dipindahkan Muawiyyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa
sebagai gubernur sebelumnya. Kholifah-kholifah besar pada masa dinasti Bani
Umayah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sofyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705
M), Walid ibn Abd Malik (705-715 M), Umar ibn Abd Al-Aziz (717-720 M), dan
Hasyim ibn Abd Al-malik (724-743 M)[2].
Dengan
keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah
kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah
itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak,
sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan,
Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan diAsia Tengah[3].
Disamping ekspansi
kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai
bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu
dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.
Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada
masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi
tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan
mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang
dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan
memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga
berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan
memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715
M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang
cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun
jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya,
pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
Memasuki masa
kekuasaan Muawiyyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang
bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun
temurun)[4].
Kekhalifahan Muawiyyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya,
tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara
turun-temurun dimulai ketika Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk
menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.[5] Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh
sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan,
namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata
tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh
Allah padahal tidak ada satu dalil pun dari al-Qur'an dan Hadits Nabi yang
mendukung pendapatnya.
Dan kemudian
Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan
bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian
kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan
anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya
gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang
saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
Kerusuhan terus
berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik
(724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari
menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal
dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya
Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan
tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil
dipadamkannya.
Dan akhirnya, pada
tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang bersekutu
dengan Abu Muslim Al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani
Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil
ditangkap dan terbunuh di sana[6].
Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di
timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru
Bani Umayyah di Al-Andalus.
Bagaimanakah
proses pemerintahan pada maa daulah Bani Umayyah? Bagaimana dengan kebijakan
dan orientasi politik, hukum, serta ekonominya? Beberapa hal tadi adalah
pembahaan dalam makalah ini. Serta akan kami bahas pula mengenai perkembangan
sains dan teknologi, sistem sosial budaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BANI
UMAYYAH DI DAMASKUS (661-750 M)
1.
Perkembangan
Bani Umayyah dan Perluasan Wilayah
Masa ke-Khilafahan
Bani Umayyah hanya berumur kurang lebih 90 tahun yaitu dimulai pada masa
kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yaitu setelah terbunuhnya Ali bin Abi
Thalib, dan kemudian orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali namun Hasan bin
Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam
rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam
fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin,
perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi'ah, dan
terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.
Pada masa Muawiyah
bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin
Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan
Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah Timur, dengan menguasai daerah Khurasan
sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan
lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel.
Sedangkan ekspansi ke Timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa
khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara
menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia,
Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan,
Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan[7].
Ekspansi ke Barat
secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa
pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat
Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang
lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara
menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah
Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam,
dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib)
dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan
nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan
demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol,
Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain
seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru
setelah jatuhnya Cordoba[8].
Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari
rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.
Di zaman Umar bin
Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan
ini dipimpin olehAburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang
Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam
peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya
mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas,
pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam
pada zaman Bani Umayyah ini.
Dengan
keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah
kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah
itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak,
sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan,
Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah[9].
Disamping ekspansi
kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai
bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu
dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.
Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada
masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi
tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan
mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang
dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan
memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga
berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan
memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715
M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang
cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap[10].
Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah
lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah[11].
Meskipun
keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam
negeri dapat dianggap stabil. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi
kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun)
mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk
menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu
Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium,
istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan
interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam
pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah padahal tidak ada satu dalil pun
dari al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mendukung pendapatnya.
Dan kemudian
Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan
bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian
kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan
anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya
gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang
saudara beberapa kali dan berkelanjutan[12].
Ketika Yazid bin
Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan
setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur
Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya.
Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu
Thalib danAbdullah bin Zubair Ibnul Awwam.
Husain bin Ali
sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah, Pada tahun 680 M, Yazid bin
Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia,
Namun terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan
Pertempuran Karbala[13],
Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang
tubuhnya dikubur di Karbala[14]
sebuah daerah di dekat Kufah.
Kelompok Syi'ah
sendiri, yang tertindas setelah kesyahidan pemimpin mereka Husain bin Ali,
terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan di antaranya adalah yang
dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar mendapat banyak
pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari
Persia, Armenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga
negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah
bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah
Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan
Syi'ah secara keseluruhan.
Abdullah bin
Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap
Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan
Mekkah secara biadab seperti yang diriwayatkan dalam sejarah. Dua pasukan bertemu
dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena
taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke
Damaskus.
Perlawanan
Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik
bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang
dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah
bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.[15]
Setelah itu,
gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi'ah juga
dapat diredakan. Keberhasilan ini membuat orientasi pemerintahan Bani Umayyah
mulai dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah
timur (meliputi kota-kota di sekitar Asia Tengah) dan wilayah Afrika bagian utara,
bahkan membuka jalan untuk menaklukkan Spanyol (Al-Andalus). Selanjutnya
hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan
Khalifah Umar bin Abdul-Aziz (717-720 M), di mana sewaktu diangkat sebagai
khalifah, menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang
berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada menambah perluasannya[16],
dimana pembangunan dalam negeri menjadi prioritas utamanya, meringankan zakat,
kedudukan mawali disejajarkan dengan Arab. Meskipun masa pemerintahannya sangat
singkat, namun berhasil menyadarkan golongan Syi'ah, serta memberi kebebasan
kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan
kepercayaannya.
2.
Kemunduran
Bani Umayyah
Sepeninggal Umar
bin Abdul-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul-Malik
(720- 724 M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan
kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan
kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap
pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang
memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa
pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan
pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat
bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim
yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin
Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena
gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya[17].
Setelah Hisyam bin
Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan
hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan
oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani
Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan
bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri
ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian
Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur
(Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani
Umayyah di Al-Andalus.
B.
KEKHALIFAHAN
BANI UMAYYAH DI ANDALUSIA (756-1031 M)
Al-Andalus atau
(kawasan Spanyol dan Portugis sekarang) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada
zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M), dimana
tentara Islam yang sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya
sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah.
Sejak pertama
kali berkembang di Spanyol sampai dengan berakhirnya kekuasaan Islam di sana,
islarn telah memainkan peranan yang sangat besar. Masa ini berlangsung selama hampir
delapan abad(711-1492 M)[18] dibagi menjadi enam periode.[19]
Andalusia
menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai tahun 132 H/ 750 M.
Selama periode tersebut, para gubernur Umayyah di Andalusia berusaha mewujudkan
impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran
Poitiers didekat Tours pada tahun 114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan
Abd Al–Rahman Al–Ghafiq di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah
pimpinan Kartel Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam
diutara pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan
yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika daulah
Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi salah satu
propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin Muawiyah, cucu
khalifah Umawiyah kesepuluh Hisyam Ibn Abd Malik, memproklamasikan propinsi itu
sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi
itu. Andalusia memasuki babak baru sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah
kekuasaan Bani Umayyah yang beribukota di Cordova sampai tahun 422H/1031M.[20]
Pada tahap awal
semenjak menjadi wilayah kekuasaan Islam, Spanyol diperintah oleh wali-wali
yang diangkat oleh pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus (periode pertama).
Pada periode ini kondisi sosial politik Spanyol masih diwarnai perselisihan
disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Selain itu juga timbul
gangguan dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di
wilayah-wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur
Rahman al-Dhahil ke Spanyol pada tahun 755 M sampai pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan yang begitu pesat.[21]
Dalam
proses penaklukan ini dimulai dengan kemenangan pertama yang dicapai oleh Tariq
bin Ziyad membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Kemudian
pasukan Islam dibawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil menaklukkan Sidonia,
Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Goth,
Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya,
keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian
utaranya, mulai dari Zaragoza sampai Navarre.
Gelombang
perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin
Abdul-Aziz tahun (717-720 M). Namun, ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia
menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam
lebih baik daripada menambah perluasannya.[22] Sasaran
perluasan wilayah ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pirenia
dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi
usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya,
pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan
pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitiers dan dari sini ia mencoba
menyerang kota Tours, di kota ini ia ditahan oleh Charles Martel, yang kemudian
dikenal dengan Pertempuran Tours, al-Ghafiqi terbunuh sehingga penyerangan ke
Perancis gagal dan tentara muslim mundur kembali ke Spanyol.
Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi
sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan.
Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam
beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Goth bersikap tidak
toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran
Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi
yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut
agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama
disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa
pemerintahan Raja Roderic, Raja Goth terakhir yang dikalahkan pasukan Muslimin.
Awal kehancuran kerajaan Visigoth adalah ketika Roderic memindahkan ibu kota
negaranya dari Seville ke Toledo, sementaraWitiza, yang saat itu menjadi
penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing
amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit
menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderic. Mereka pergi ke Afrika Utara dan
bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja
Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga
bergabung dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam
untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal
yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara
Roderic yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai
semangat perang, selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga
mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Sewaktu penaklukan itu para pemimpin penaklukan tersebut terdiri
dari tokoh-tokoh yang kuat, yang mempunyai tentara yang kompak, dan penuh
percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan
para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap
toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu
menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
C.
SISTEM
PEMERINTAHAN ATAU POLITIK
Memasuki masa
kekuasaan Muawiyyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang
bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis. Kekhalifahan Muawiyyah
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika
Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya,
Yazid.[23]
D.
PERKEMBANGAN
ILMU SOSIAL DAN BUDAYA
1.
Kemajuan
Intelektual[24]
Masyarakat Spanyol Islam merupakan
masyarakt majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas. Semua komunitas itu,
kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya
lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan
bangunan fisik.
a)
Filsafat[25]
Minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan mulai di kembangkan pada abad 9 H, selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad bin Abd Al rahman
(832-886 H).
Tokoh utama dalam
sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammada ibn Al-sayigh yang
lebih dikenal dengan Ibn Bajah. Tokoh yang lainnya yaitu, Abu Bakr ibn Tufail,
penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di timur Granada.
Bagian akhir abad
ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di
gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusy dari Kordova. Ciri khasnya
adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian
dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.
b)
Sains[26]
Ilmu-ilmu kedokteran,
musik, matematika, astronomi, kimia dan lainnya juga berkembang dengan baik.
Abbas ibn Farnas termashur dalam bidang kimia dan astronomi. Ialah orang yang
pertama menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya Al naqoss,
terkenal dengan ilmu astronomi, ia dapat menentukan kapan dan lamanya gerhana
matahari, ia juga berhasil menbuat teropong modern yang dapat menentukan jarak
antara tata surya dan bintang-bintang.
Dalam bidang
sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahhirkan banyak pemmikir
terkenal, Ibn Jubair menulis tentang negeri –negeri Islam. Ibnu Batutah
mencapai sampai samudra pasai dan Cina. Ibn al Katib menyusun riwayat tentang
Granada, sedangkan Ibnu Kaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah.
c)
Fikih[27]
Dalam bidang
fikih, dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini
adalah Ziyad ibn Abd Al rahma, perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn
Yahya yang menjadi qodhi pada masa Hisyam Ibn Abd Rahman. Ahli fiqh lainnya
yaitu, Abu Bakar ibn Al Quthiyah, Munzir ibn Said Al Baluty, dan Ibn Hazm.
d)
Music
dan Kesenian[28]
Dalam bidang music
dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecermelangan dengan tokohnya Al Hasan
ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Ia juga dikenal sebagai penggubahlagu. Ilmu yang
dimilikinya diturunkan kepada kepada ank-anaknya baik laki-laki maupun
perempuan, ddan juga budak-budaaknya sehingga kemashurannya tersebar luas.
e)
Bahasa
dan sastra[29]
Bahasa Arab telah
menjadi bahasa Administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal ini dapat
di terima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan, penduduk asli spanyol
menomorduakan bahasa mereka, mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam
bahasa Arab, baik ketrampilan bahasa maupun tata bahasa.
Seiring dengan
kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra banyak bermunculan sepertiAl iqd al
Farid karya ibn Abd Rabbin, Al Dzakirah fi mahasin Ahl al Jazirah oleh Ibn Bassam,
kitab Al qawaid karya Al Fath ibn Khaqan.
2.
Kemegahan
Pembangunan Fisik.[30]
a)
Cordova
Cordova adalah ibu
kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh
penguasa Muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun
diatas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-tamn dibangun untuk menghiasi
ibu kota Spanyol Islam. Pohon-pohon dan bunga-bunga di impor dari timur. Di
seputar ibu kota berdiri istana-istana yang megah, setiap istana dan taman diberi nama sendiri-sendiri.
Di antara
kebanggaan kota Cordova lainnya adalah masjid kordova, menurut Ibn Al Dalai,
terdapat 491 masjid disana. Di samping itu,cirri khusus kota-kota Islam
terdapat pemandian. Di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah.
Karena air sungai tidak dapat diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air
dari pegunungan yang panjangnya 80 Km.
b)
Granada[31]
Granada adalah
tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Disana terkumpul sisa-sisa
kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Kordova diambil alih oleh Granada
dimasa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsistektur-arsistektur
bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana Al hamra yang indah dan megah
adalah pusat dan puncak ketinggian arsistektur Spanyol.
E.
KONDISI
SOSIAL EKONOMI[32]
1.
Kemajuan
Kondisi sosial masyarakat Andalusia
menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke
dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada
masyarakat kelas satu, dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni
penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan
tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil
adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyat kelas dua (second citizen).
Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang
nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi
dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati
hasil tanah yang mereka garap.[33]
Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat tertindas oleh kelas atas banyak lari ke
hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup,
mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau
membajak. Dekadensi moral (membunuh, merampas, atau membajak) mereka itu
bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.
Penaklukan oleh pasukan atas
Andalusia memberi dampak positif yang luar biasa. Andalusia dijadikan tempat
ideal dan pusat pengembangan budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam
kegelapan dan kehancuran, obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia,
kepada bangsa Vandhal, Goth dan Berber. Islam menegakkan keadilan yang belum
dikenal sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat
sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya sendiri.
Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa Muslim dan diberi
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap toleransi kaum muslim adalah
perjanjian damai dengan pihak para penguasa yang telah ditaklukan. Kebebasan,
persamaan dan persaudaraan yang diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang
ditaklukkan itu ikut ambil bagian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para
penguasa Muslim. Jadi Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan
keyakinan. Saat ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan
keadaan umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar
dari pada belajar.
2.
Kemunduran
a)
Konflik
Islam dengan Kristen[34]
Para pengusa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna.
Mereka sudah merasa puas dengan hanya managih upeti dari kerajaan-kerajaan
Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka,
termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata. Namun
demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang
Spanyol Kristen. Hal ini menyebabkan kehidupan negara Islam di spanyol tidak
pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen.
b)
Tidak
adanya ideology pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain, para mukalaf di perlakukan sebagai
orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan
Bani Umayyah di damaskus, orang-orang arab tidak pernah menerima orang pribumi.
Setidak-tidaknya sampai abad 10 M, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan
muwalladun kepada para mukallaf itu, suatu istilah yang dianggap merendahkan.
Akibatnya, kelompok-kelompok non Arab yang ada seting menggerogoti dan merusak
perdamaian. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideology yang dapat member makna
pemersatu, di samping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideolodi
itu.
c)
Kesulitan
ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota
dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina
perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan
mempengaruhi kondisi polotik dan militer.
d)
Tidak
jelasnya system peralihan kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris.
Bahkan, karene inilah kekuasaan Bani Umayah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul.
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke
Tangan Ferdinand dan Isabela, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini.
e)
Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam lain. Ia selalu
berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dariAfrika Utara. Dengan
demikian, tidak ada kekuatan alternative yang mampu membendung Kristen disana.
F.
KRONOLOGI
BANI UMMAYYAH
·
661
M- Muawiyah menjadi khalifah dan mendirikan Bani Ummayyah.
·
670
M- Perluasan ke Afrika Utara. Penaklukan Kabul.
·
677
M- Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Serangan ke Konstantinopel.
·
680
M- Kematian Muawiyah. Yazid I menaiki takhta. Peristiwa pembunuhan Husain.
·
685
M- Khalifah Abdul-Malik menegaskan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.
·
700
M- Kampanye menentang kaum Barbar di Afrika Utara.
·
711
M- Penaklukan Spanyol, Sind, dan Transoxiana.
·
713
M- Penaklukan Multan.
·
716
M- Serangan ke Konstantinopel.
·
717
M- Umar bin Abdul-Aziz menjadi khalifah. Reformasi besar-besaran dijalankan.
·
725
M- Tentara Islam merebut Nimes di Perancis.
·
749
M- Kekalahan tentara Ummayyah di Kufah, Iraq terhadap tentara Abbasiyyah.
·
750
M- Damsyik direbut oleh tentara Abbasiyyah. Kejatuhan Kekhalifahan Bani Ummaiyyah.
·
756
M- Abdurrahman Ad-Dakhil menjadi khalifah Muslim di Kordoba. Memisahkan diri dari Abbasiyyah.
G.
REKONSTRUKSI
·
Sejarah
merupakan pelajaran yang amat berharga bagi umat manusia yang hidup pada masa
kini. Manusia tidak salah melangkah dalam bersikap dan berbuat.
·
Belajar
sejarah mendorong umat manusia untuk bertoleransi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga kerukunan serta kejayaan dapat
terwujud.
·
Menyalahi
perjanjian adalah sikap yang tidak terpuji yang berakibat timbulnya
perselisihan dan perpecahan persaudaraan, seperti perjanjian yang dilakukan
oleh Muawiyah bin Abu Sofyan dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
·
Kesungguhan
dan kegigihan dalam berusaha dan kepiawaian dalam bertaktik akan membawa pada
keberhasilan, seperti ekspansi yang dilakukan Daulah Bani Umayyah.
·
Islam
mudah diterima di Spanyol karena penguasa Spanyol sangat kejam, tidak adil dan
dzalim, serta tidak toleran terhadap penganut agama selain kristen.
·
Pemerintahan
yang kuat adalah pemerintahan yang ditegakan atas dasar keadilan dan kejujuran.
·
Pemerintahan
yang adil akan membawa pada kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan.
·
Pemerintahan
yang jujur akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menunjukan jalan
ke surga.
·
Konflik
politik internal didalam pemerintahan menyebabkan disintegrasi dan memperlemah
kekuatan pemerintahan.
·
Kelemahan
Kerajaan Andalusia pada akhir masa kejayaanya adalah dalam pertahanan. Seluruh
energi ditumpahkan sepenuhnya untuk ilmu pengetahuan dan mengabaikan pembinaan
pertahanan negara. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan kaum Kristen di Spanyol.
BAB III
PENUTUP
Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu
Umayyah, Dinasti Umayyah) atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam
pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di
Jazirah Arab dan sekitarnya (beribukota di Damaskus); serta dari 756 sampai
1031di Kordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Kordoba. Nama dinasti ini dirujuk
kepada Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani
Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan
Muawiyah I.
Dalam ekspansinya, Bani Umayyah berhasil
menguasai ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam
masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi
Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia
Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan,
Uzbekistan, dan Kirgistan diAsia Tengah[35].
Disamping ekspansi
kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai
bidang. Seperti mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan
menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan,
menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang, jabatan khusus seorang
hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, mengubah mata uang
Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam dan
mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan
Arab dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi
pemerintahan Islam, membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya
digaji oleh negara secara tetap[36].
Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah
lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah[37].
Ketika Bani
Umayyah menguasai Andalusia (Spanyol) dan menjadikan Ibukotanya disana, Bani
Umayyah mengembangkan ilmu sosial dan budaya, seperti: mengembangkan Filsafat,
sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra. Dibidang Pembangunan Fisik
seperti; di Kordova ada masjid kordova yang megah, di Granada yang
Arsistektur-arsistektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa dan Istana
Al-Hamra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsistektur
Spanyol.
Dalam masa lebih dari tujuh abad
kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana.
Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan
kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad 10 M dunia Islam
mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran
itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada pertengahan abad ke 12 M ,
tibalah saatnya masa keruntuhan Islam.[38]
Demikianlah sedikit gambaran
mengenai Bani Umayyah sebenarnya masih banyak sumber-sumber lain yang menjelaskan
keberadaan Bani Umayyah namun karena keterbatasan kami sehingga kami mengambil
rujukan-rujukan yang mudah kami pahami.
DAFTAR
PUSTAKA
Yatim, Badri.1994.Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.Jakarta:
Raja Grafindo Persada
Supriyadi, Dedi.2008.Sejarah
Perdaban Islam.Bandung: Pustaka Setia
Ghazzi, Luqman.2008.Penakluk Andalusia.Batu
Caves: PTS Islamika
Abdul Latif Osman.1962.Ringkasan Sedjarah Islam.(Volume2)
Yayasan Nurul Islam.1997.Panji Masyarakat.(Volume
1)
Ali Shodiqin dkk.2004.Sejarah Peradaban Islam:Dari Masa Klasik
Hingga Modern.Yogyakarta
[1] Yatim, Badri, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 43
[2] Yatim, Badri ,
op. cip., hlm. 43. Lihat juga majalah Yayasan Nurul Islam.1997. Panji
Masyarakat.(Volume 1). hlm. 52
[3] Yatim, Badri, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 44.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, Cet. ke-1, 1993), hlm 99
[8] I b i d, hlm.
44.
[9] I b i d, hlm.
44.
[10] A. Syatibi, Sejarah
Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987), hlm 90-91
[13] Lihat di Britannica Encyclopedia, Battle of
Karbala
[14] Hasan Ibrahim
Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang,
1989), Hlm. 69.
[15]
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,
(Jakarta : Rajawali Pers, 2014, Cet.ke-25), hlm. 46. Lihat juga W. Montgomery Watt,
Kejayaan Islam: Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara
Wanaca Yogya, 1990), hlm. 23.
[16] Ahmad Amin, Islam
dari Masa ke Masa, (Bandung: CV Rusyda, 1987), hlm. 104
[18]
Ali Shodiqin dkk, Sejarah
Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta :
LESFI,Cet.Ke 2, 2004), hlm.79-80.
[22] Ahmad Amin, Islam
dari Masa ke Masa, (Bandung: CV Rusyda, 1987), hlm. 104. Lihat juga Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta
: Rajawali Pers, Cet.ke-25, 2014), hlm 47
[23] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, Cet. ke-1, 1993), hlm. 99
[35] Yatim, Badri, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke-25, 2014), hlm. 44.
[36] A. Syatibi, Sejarah
Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987), hlm 90-91
Casino Player Ratings and Reviews - DRMCD
BalasHapusCasino Player Ratings and Reviews 강릉 출장마사지 · Casino Player Ratings 태백 출장샵 and Reviews · Casino Player Reviews · Casino Player Reviews · Casino Player Reviews 의왕 출장마사지 · Casino งานออนไลน์ Player Ratings 전라남도 출장마사지 and Rating: 3 · Review by DRMCD
joya shoes 650e0mehfx102 joya sko,joya sko,joya skor,Cipő joya,zapatos joya,joya schoenen verkooppunten,Scarpe joya,chaussures joya,joya schuhe wien,joya schuhe joya shoes 504g0ozucs964
BalasHapus